Hampir dipastikan bahwa kita tidak bisa dengan mudah berhubungan dengan siapa saja. Ada sifat khusus yang dimiliki oleh setiap manusia yang kemudian menjadi kelemahan setiap orang, termasuk sifat egois. Menghadapi suami/pria dan wanita egois membutuhkan trik agar kita tidak menjadi geram. Meskipun kita sangat menyadari bahwa sifat setiap orang adalah hak setiap orang juga, tapi tidak berarti bahwa sifat setiap orang itu hanya bermain dengan orang itu sendiri, pasti ada saatnya sifat negatif orang lain bisa bersinggungan dengan sifat kita juga. Contohnya, sifat egois orang lain bersinggungan dengan sifat kita yakni mudah marah.

Sifat negatif yang dibahas dalam artikel ini adalah egois. Menghadapi suami atau istri yang egois harus dihadapi dengan lapang dada, karena pernikahan sendiri adalah sesuatu yang sakral dan tidak bisa diputuskan dengan cepat. Mau tidak mau, kita harus menerima sifat itu dan kita harus pandai menyiasati diri kita untuk tidak terbawa dalam sifat itu atau menjadi antipati terhadap sifat itu. Yang ada hanyalah kita sebaiknya menerima dan berusaha menyadarkan pasangan kita.

Kata bijak egois yang saya pegang sejauh ini adalah; pria atau wanita egois ada di mana-mana dengan tingkat keegoisan yang beragam. Egois memang perlu untuk membentengi diri kita dari keterpurukan dan kejatuhan. Yakni, ada saatnya di mana kita harus benar-benar memikirkan diri kita. Setiap orang dikaruniai dengan pikiran, jadi seyogyanya setiap orang harus bisa memikirkan dirinya sendiri untuk bisa memakmurkan dirinya sendiri. Bila kita bisa memakmurkan diri kita maka kita dianjurkan untuk memakmurkan orang lain juga. Padahal tanpa menunggu kita makmur pun, jikalau kita bisa memakmurkan orang lain, makmurkan saja kenapa tidak?

Egois dalam Islam, merupakan sifat yang harus diseimbangkan. Tidak bisa full egois, tapi kita harus bisa merasakan nasib saudara kita juga. Kita harusnya bisa memberikan apa yang kita punya ke orang lain, sebagai bentuk sedekah. Dalam hal syiar pun, kita disarankan untuk menyampaikan apa yang kita tahu. Ilmu dan harta yang kita punya bukanlah mutlak punya kita semata, sebagian hanya titipan lewat kita yang diberikan ke orang lain dalam bentuk zakat.

Akhirnya, menghadapi suami atau pria dan wanita egois harusnya bercermin pada nilai moral yang dikandung dalam agama. Keegoisan adalah cikal bakal untuk menjadi serakah, harta dan ilmu yang dimiliki hanya akan berguna bila kita dan orang lain memperoleh manfaatnya. Semua hanya titipan dan tidak ada yang abadi. Keegoisan membuat kita miskin amal dan miskin berkah. Padahal harta dan ilmu itulah yang jadi bekal kita untuk kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Belajar Internet Marketing Dan Cara Mencari Uang Di Internet