Setiap orang memiliki pola pikir yang berbeda dengan orang lain.  Perbedaan pola pikir menghasilkan pertimbangan yang juga berbeda bila dihadapkan pada beberapa pilihan. Memang sudah ditakdirkan seperti itu, sehingga secara keseluruhan di dunia ini saling melengkapi dengan segala peran yang ada bila dunia ini diibaratkan panggung sandiwara. Pola pikir juga menentukan nasib karena nasib itu dibangun dari beberapa pilihan yang saling terangkai.


Pola pikir terbentuk dari segudang pengalaman yang telah kita lalui. Beberapa dari kita banyak yang berprofesi sebagai karyawan atau mencari rejeki sebagai pegawai bagi orang atau badan usaha, tentu karena kita punya pola pikir tertentu yang akhirnya kita lebih senang memilih bekerja sebagai karyawan.


Tidak ada yang salah dengan karyawan, tidak ada. Itu pekerjaan halal kok dan lebih aman dari resiko keuangan. Ini cuma perumpamaan saya saja yang setidaknya pernah menjadi karyawan juga.


Saya pernah mengikuti seminar motivasi kemandirian financial beberapa tahun yang lalu. Pengisi seminar menyampaikan bahwa untuk menjadi kaya sebenarnya lebih kepada pola pikir yang benar. Banyak orang tidak menyadari bahwa pola pikirnyalah yang menghambatnya. “Yup, benar” gumam saya saat itu, karena itu bisa jadi faktor pembeda kenapa dengan cara bisnis yang sama, hasil akhir yang diperoleh malah berbeda.


Pola pikir tidak bisa dirubah dalam hitungan bulan, apalagi hitungan hari. Saya ibaratkan dengan pohon, setelah sekian lama pohon menancapkan akar ke dalam tanah, tumbuh dan menguat, maka tentunya tidaklah mudah untuk mencabut pohon itu. Demikian pula pola pikir. Bahkan ada kemungkinan untuk mengubah pola pikir harus dengan shock theraphy yang intensif seperti seminar, outbond, ikut kelas khusus, ceramah, dll. Sebagai tambahan, harus juga dengan aktivitas-aktivitas yang mendukung seperti masuk ke komunitas yang sesuai, menambah kegiatan luar, dan lain-lain. Dengan kata lain, tidak ada yang mustahil kalau kita berusaha tentunya.


Terus kita mungkin bertanya pola pikir apa yang sebaiknya kita miliki, saya bukanlah pakar untuk ini dan pengalaman hidup saya pun belum seberapa. Meskipun begitu tidak ada salahnya saya berbagi pikiran siapa tahu ada manfaatnya..


Yang utama adalah pola pikir hidup sederhana. Sebanyak apa pun harta yang kita miliki dan sebesar apa pun kekuasaan yang kita miliki, tetaplah hidup sederhana. Saya tidak memaksa untuk ini karena itu hak anda untuk menjadi seperti apa. Hidup sederhana menjadikan kita tetap rendah hati, tidak berambisi dunia, dan tenang dalam menjalani hidup. Kedua adalah pola pikir optimis dan tawakkal yang senantiasa selalu melihat cerah apa yang akan terjadi di kemudian hari namun tetap menyerahkan hasil akhirnya kepada Tuhan atas apa yang kita optimiskan itu. Tidak ada yang bertahan selamanya di dunia ini, kesehatan tidaklah abadi, harta tidak abadi, kekuasaan tidaklah abadi, keluarga tidaklah abadi, dan terakhir kehidupan tidaklah abadi.. Dengan begitu, pola pikir yang kita miliki harus selalu mempertimbangkan kondisi itu..